Rabu, 18 Maret 2009

MEMBANGUN CARUBAN DIMULAI DARI DESA

4 komentar

Tidak terpikir untuk kembali ke desa tempat dilahirkan setelah sekian lama berdomisili di kabupaten Subang. Namun, setelah melihat persoalan kemiskinan di kampung halamannya, berbekal tekad meski sempat kebingungan, ia memutuskan untuk kembali ke desa. Tepatnya di Kelurahan Bangunsari Kecamatan Mejayan Caruban Madiun. Tujuannya satu, membangun daerahnya kembali. Itu mungkin yang bisa menggambarkan perjalanan salah satu penggerak, Saad Sholaidin alias Kang Robert, yang juga anggota Perkumpulan Alha-Raka dalam menginisiasi gerakan rakyat di Caruban-Madiun.

Desa Bangunsari terbagi menjadi dua dusun, yakni Dusun Kayo dan Dusun Tompowijayan. Dusun Kayo terletak sebelah utara yang memiliki areal persawahan cukup luas, sedangkan Dusun Tompo Wijayan tidak memiliki lahan persawahan. Kebanyakan mata pencahariannya adalah pedagang dan jasa sebagai sektor produksinya.

Kondisi masyarakat Tompowijayan sangat memprihatinkan. Pendapatan setiap bulannya di setiap kepala keluarga (non PNS dan pedagang besar) berkisar antara Rp 150 ribu sampai Rp 450 ribu dengan tanggungan beban keluarga berjumlah antara 2 sampai 6 orang dewasa. Pendapatan yang cukup kecil ini, didapat dengan profesi beraneka ragam, mulai dari pedagang kue sampai pencari ikan di sungai dan waduk-waduk sekitar. Setiap harinya untuk memperoleh tambahan nabatinya rata-rata masyarakat sekitar memanfaatkan sungai dan waduk untuk mendapatkan ikan, sebab untuk membeli ikan mereka tidak cukup biaya apalagi untuk menyekolahkan anak lebih tinggi, dalam hal ini jelaslah tidak mungkin.

Membangun Karang Taruna Permadani

Awalnya dari rumahnya sendiri, penggerak membangun Karang Taruna Permadani, untuk menginisiasi kelompok muda yang selama delapan (8) tahun fakum. Dari kelompok itu kemudian ada keberhasilan kecil yang diraih tentang penanganan demam berdarah. Mereka mengirim surat kepada ketua RW 5 untuk mensepakati perlunya foging secara gratis. Surat tersebut ditanggapi dan berhasil. Dari titik awal inilah ada semacam kepercayaan untuk memandatkan kepada para pemuda untuk mendirikan organisasi.

Dari situ, penggerak mencoba mengumpulkan pemuda-pemuda untuk membentuk organisasi kepemudaan. Pada waktu itu lahirlah Karang Taruna Permadani, singkatan dari Persatuan Masyarakat Damai dan Indah. Banyak ide dan inovasi yang muncul dari para pemuda, seperti adanya radio komunitas, buletin Kartar, dan produk telur aneka rasa.

Akhirnya pemuda dusun lain juga tidak mau ketinggalan. Salah satunya adalah kelompok muda Tompowijayan. Kelompok ini merupakan kumpulan anak muda yang memiliki tekad bersama untuk memajukan lingkungan sekitar. Mereka yang sebelumnya tidak berpikir tentang kemajuan desa, sekarang mulai berkelompok. Melalui momentum Agustus-an, secara bersama-sama mereka mengorganisir perayaan hari kemerdekaan. Mereka juga melakukan deklarasi kelompoknya untuk berkomitmen dalam menyelesaikan problem masyarakat secara bersama. Maka, mereka merancang pertemuan rutin mingguan untuk membahas persoalan dan saling berbagi ide-ide kreatif antar pemuda disekitarnya.

Mendorong Pedagang Pasar Sayur Berkoperasi

Jumlah pedagang Pasar Sayur Bangunsari Caruban Madiun mencapai 300 orang dengan latar belakang ekonomi yang sebagian besar lemah dan hampir 60 persen dari mereka terjerat rentenir. Bahkan yang paling fantastis satu pedagang bisa terjerat sampai 5 hingga 8 rentenir, tak ayal hasil bekerja setiap harinya hanya dapat memenuhi bunga pinjaman saja.

Fakta tersebut menjadi masalah yang biasa dihadapi sehari-hari oleh para pedagang. Hal ini akibat tidak adanya perhatian pemerintah terhadap keberadaan para pedagang. Kondisi tersebut dimanfaatkan oleh para rentenir yang bergerak di perbankan gelap atau istilah pasar setempat bank clurut. Dampak serius yang terjadi banyaknya para pedagang yang kehabisan modal di tengah jalan karena bunga pinjaman sangat tinggi. Semisal, ada pedagang yang meminjam sejumlah Rp 100 ribu ke rentenir, maka pedagang akan menerima Rp 90 ribu. Pinjaman tersebut harus dikembalikan selama satu bulan dengan jumlah Rp 125 ribu rupiah. Dalam tempo yang telah ditentukan tersebut, jika pedagang tetap tidak bisa mengembalikan maka akan muncul bunga tambahan yang semakin lama semakin melambung tinggi, hingga bisa mencapai Rp 1 juta lebih.

Menanggapi persoalan rentenir, menurut Marjono, mandor dan pencatat beberapa barang yang datang ke Pasar Sayur Caruban, bahwa perlu dipikirkan pentingnya kebersamaan untuk menghadapi persoalan tersebut. Dan harus ada tindakan tegas dari kepala pasar sayur Caruban terhadap praktek rentenir yang sudah merajalela puluhan tahun. “Dari pihak Dinas harus memanggil dan membuat perjanjian dengan para rentenir agar tidak menekan dan memberlakukan bunga yang sangat tinggi. Langkah tersebut sangat bagus, untuk mengingatkan para pedagang dan pihak pasar lainnya agar bersikap tegas,” kata Mas Marjono yang biasa dipanggil Mas Brewok.

Dari latar belakang persoalan kebutuhan pinjaman untuk modal, penggerak memfasilitasi beberapa pedagang untuk membuat forum bersama. Sebagai ajang bertemu antar pedagang sayur untuk menjembatani persoalan-persoalan yang muncul dalam perdagangan. Setelah inisiatif tersebut ditawarkan kepada para pedagang sayur lainnya ternyata direspon bagus. Pada pertemuan awal disepakati membentuk Majelis Pengajian yang dijadwalkan akan bertemu setiap bulan sekali. Tujuannya selain membicarakan tentang pengetahuan keagamaan dan membina ketakwaan para pedagang, forum tersebut dimanfaatkan untuk membahas permasalahan para pedagang sehari hari, terutama kebutuhan permodalan.

Melalui majelis ini, para pedagang sayur belajar tentang koperasi. Pemahaman yang keliru tentang koperasi berusaha dijelaskan oleh penggerak. Dari bunga yang kecil, jaminan yang tanggung renteng, serta iuran rutin yang sangat tidak memberatkan anggota dan dianggap sebagai tabungan. Dan yang paling pokok, bahwa laba atau Sisa Hasil Usaha (SHU) beserta iuran akan kembali sepenuhnya kepada anggota.

Teknisnya, setelah pengajian usai, kemudian dilanjutkan diskusi oleh para penggerak Pasar Sayur Caruban. Pertemuan ini dihadiri oleh Agus Joyo, selaku satpam pasar dan penggerak para pedagang. Menurut Agus, agar selalu guyub dan rukun, perlu suatu wadah untuk meramu kebersamaan antar pedagang sayur. Dan adanya Majelis Pengajian adalah salah satu solusi kongkrit melawan ketidakadilan para rentenir.

Selain itu, ia juga menganjurkan kepada semua pedagang agar lebih hati-hati dalam meminjam uang untuk modal. Untuk itu Agus memberikan solusi terbaik kepada pedagang untuk meminjam modal kepada Koperasi Pasar Sayur yang disesuaikan kebutuhan. Sebenarnya pihak pasar sudah mengusahakan agar para pedagang lebih memilih koperasi dalam mengajukan permodalan. Namun dari dulu yang meminjam modal hanya sebagian kecil dari anggota pasar sayur caruban, dan yang lainnya masih minim pengetahuan tentang koperasi akan manfaat dan hasilnya.

Tersebarnya informasi yang keliru sudah lama diterima oleh pedagang tentang koperasi sehingga muncul prasangka tidak baik. Adanya syarat yang memberatkan untuk menjadi anggota koperasi, urusan untuk meminjam uang yang njlimet, sampai pada setiap anggota harus memiliki jaminan untuk meminjam uang di koperasi. Sedangkan jika ke rentenir maka tidak demikian, artinya meskipun bunga tinggi tetapi persyaratan tidak ada dan lebih mudah mengaksesnya.

Perempuan Bangunsari Mendirikan Koperasi

Proses perencanaan berdirinya koperasi sudah dimulai sejak bulan Januari 2008, namun hanya sebatas pembicaraan biasa antar pedagang ketika sedang menunggu pembeli. Niat tersebut kian mantap tatkala Ibu Nur Syamsiah juga turut mendukung gagasan para pedagang kecil tersebut untuk berhimpun melawan para renternir. “Semangat ibu-ibu untuk mengembangkan diri memang perlu didukung penuh oleh berbagai pihak, mulai dari keluarga, lingkungan sampai pada pihak Dinas Perkoperasian. Jika semua pihak tersebut sepakat berarti langkah kemandirian masyarakat akan semakin tercipta,” tutur Bu Nur yang terpilih menjadi ketua Koperasi Perempuan Anggrek Indah (KPAI).

Bertempat di rumah H. Jayadi, tepatnya di Jalan Anggrek, mereka mengadakan pertemuan mendirikan koperasi. Pada tanggal 17 Februari 2008 diadakan rapat anggota pertama untuk menentukan nama koperasi. Koperasi ini akan mereka jadikan alat perjuangan di bidang ekonomi yang selama ini dikuasai oleh bank clurut ketika mereka membutuhkan modal.

Memutus mata rantai renternir, memang harus dimulai dari akarnya. Hal ini diakui Nur, usai pelaksanaan pemilihan pengurus. Dari latar belakang persoalan ekonomi yang sama, yakni selaku pedagang kecil yang selalu saja mempunyai keluhan persoalan modal. Mereka tidak tahu mau kemana meminjam uang jika semua sanak saudara juga mempunyai kondisi ekonomi yang sama. Tawaran dari pihak bank clurut pun diterima dengan berat hati karena kalau sampai tidak berjualan maka pelanggan yang sudah lama menjadi konsumen tetap akan beralih pedang.

Ibu Suyatmi salah satu pedagang gorengan tempe mengaku sempat mempunyai masalah yakni, kesulitan membeli kedelai saat harganya naik. Namun meski tidak mempunyai uang ia tidak pergi ke renternir, sebisa mungkin ia berusaha menolaknya. Beberapa persoalan tersebut kemudian dibicarakan antar tetangga. Akhirnya salah satu dari mereka mempunyai ide untuk berkumpul dan membuat wadah untuk saling membantu. “Awalnya sih agak ragu ada yang mau apa tidak, namun setelah diberitahu Kang Saad, anggota FBMC tentang keuntungan memiliki koperasi maka banyak ibu-ibu yang tertarik,” terang Luluk Halimatusa'diah, yang saat ini menjadi Bendahara KPAI.

Dari sinilah, sebanyak 25 perempuan memutuskan bergabung menjadi anggota koperasi. Padahal dari perencanaan pertengahan bulan Februari, hanya sebanyak 15 orang. Ini membuktikan sebenarnya banyak orang yang mempunyai keinginan untuk mandiri. Saat ini, hampir setahun Koperasi Perempuan Anggrek menjalankan aktifitasnya. Selama itu belum ada kendala yang berarti, bahkan perhatian pemerintah mulai ditujukan kepada kelompok perempuan ini dengan menawarkan berbagai program. “Kami telah merasakan manfaatnya berkoperasi. Apalagi saat ini banyak sekali tawaran dari pemerintah mengenai permodalan. Tinggal kita memilih saja sekiranya mana yang paling menguntungkan. Bahkan rencananya ada pula dana hibah yang disumbangkan untuk kelompok kita,” Kata Nur Samsiah, Ketua KPAI, bangga.

Forum Bersama Kuatkan Kelompok-Kelompok di Caruban

Kerja pengorganisasian yang dilakukan Kang Robert di Caruban sejak awal 2006 hingga akhir 2008, bisa dilihat dari adanya kelompok-kelompok masyarakat di desa yang menjadi solid. Tidak hanya kelompok muda yang semakin kuat, tetapi juga kelompok perempuan, pedagang pasar, petani pinggir hutan, dan puluhan kelompok lainnya. Mereka tergabung dalam satu organisasi aliansi yang diberi nama Forum Bersama Membangun Caruban, disingkat FBMC. Forum ini dideklarasikan pada 21 Januari 2007 dengan nama awal Perhimpunan Masyarakat Caruban (PMC) yang anggota sebanyak 8 kelompok.

Pada tahun 2008 PMC yang berubah nama menjadi FBMC mengalami perkembangan pesat. Jumlah anggotanya bertambah sekitar 24 kelompok yakni; KPAI (koperasi perempuan ) Tompowijayan Bangunsari, Kartar Permadani Bangunsari, Paguyuban Parkir RSUD Panti Waluyo, Kelompok Pengajian Tompowijayan, Kelompok ibu-ibu PKK/ Dasawisma RT 07, Kelompok Jama'ah Ibu-Ibu di Lingkungan Tompowijayan, Kelompok Ternak Kambing Pandean, Kelompok Raung Muda Mejayan, Kelompok Kartar Pandean Timur, Jama'ah Albarzanji Caruban, Rumah Baca 'Iqro” Bangunsari, Sinoman Gempol-Ngampel, Kelompok Ternak Ikan Lele Klecorejo, LMDH Dawuhan Pilangkenceng, LMDH Luworo Pilangkenceng, Pemuda Gereja, Jama'ah Yasin Fafiru Ilallah, Karang Taruna Kaligunting, Kelompok Desa Siaga Kaligunting, Kelompok Ikan Kayo, Kelompok Parkir Pasar Sayur, Kelompok Kembang Bowo, Karang Taruna Kaibon, dan Kartar Pandan Sari.

Juga ada beberapa kelompok yang saat ini belum bergabung yaitu; Kelompok Ikan Lele Porong Mejayan, Paguyuban Taman Asri Bangunsari, Kartar Krajan Tengah, Kelompok Muda Sukorejo, Kelompok Pemulung Caruban, Kelompok Kawulo Alit Caruban, dan Paguyuban Parkir Stasiun Caruban.

Mendorong ADD untuk Rakyat

Semangat para pemuda Caruban untuk membangun daerahnya tidak akan surut. Berbagai inisiatif terlahir dari kegiatan diskusi dan seminar yang sering mereka lakukan. Pada tanggal 16 Maret 2008 lalu, bersama perwakilan warga Kecamatan Mejayan, mereka mendiskusikan bagaimana Alokasi Dana Desa (ADD) bisa bermanfaat bagi masyarakat terutama untuk meningkatkan kesejahteraan ekonomi.

Acara diskusi diikuti sekitar 25 orang, dihadiri Camat Mejayan, Sugito S.Sos, sebagai nara sumber, dan seorang tamu kehormatan, Rofiah, sebagai penggiat kerja pemberdayaan masyarakat di Kabupaten Nganjuk yang membagi pengalamannya dalam hal pemberdayaan masyarakat melalui kelompok koperasi simpan pinjam.

Diskusi ini bertujuan bagaimana masyarakat berpikir tentang pemanfaatan dana ADD sebaik mungkin. Menurut camat Mejayan, pemberdayaan dengan perspektif bantuan pemerintah yang begitu luar biasa harus dibarengi dengan semangat yang luar biasa pula dari masyarakat. Dan perlu dipahami bahwa ADD itu bukan satu-satunya. ADD hanyalah dana stimulan untuk mendorong masyarakat melakukan usaha peningkatan kesejahteraan ekonomi. Dengan begitu masyarakat tidak hanya menjadi obyek dari ADD, tetapi juga subyek yang akan menentukan keberhasilan usaha yang dilakukan.

Sebelum ada ADD, diakui Ivan Nur Cahyo, anggota FBMC, warga Desa Pandean Mejayan, bahwa konsep yang sudah dibangun dalam usaha kelompoknya sangat bagus, namun selalu terbentur masalah modal. Ivan yang juga menjadi Sekretaris LPKMK Kelurahan Pandean, berpendapat bahwa ADD menjadi ruang yang sangat besar untuk dikelola secara bersama oleh masyarakat. Dari perencanaan tahun 2006, dia bersama pemuda yang lain membentuk dua kelompok, usaha tempe dan ternak jangkrik. Untuk usaha tempe berjalan satu tahun sampai akhirnya mengalami kendala harga kedelai melonjak. Pada tahun 2007 dengan support dana dari ADD pula mereka membentuk tiga kelompok yakni, usaha telur asin, ternak kambing dan belut. Alhamdulillah yang masih berjalan sampai sekarang adalah kelompok kambing yang disupport dana awal sebesar Rp 3 juta, dan sekarang sudah melebar ke pembelian sapi. Menurutnya, inilah yang bisa dirasakan manfaatnya dari dana ADD yang perencanaanya melibatkan kelompok yang akan menggunakan dana tersebut. Seperti di kelompok pemuda yang sedang mereka bangun, yang kebetulan semua anggotanya adalah para pemuda pengangguran.

Harapan Ivan ke depan, sosialisasi ADD dilakukan lebih terbuka terutama untuk masyarakat desa pinggiran. Selain itu harus ada sistem pengawasan yang tegas sehingga ada proses pembelajaran dan perencanaan yang baik tentang usaha yang dilakukan. Lebih dari itu, harus ada proses pembelajaran (pelatihan) kepada masyarakat tentang pengelolaan keuangan dan organisasi sehingga warga bisa melakukan usaha dengan mekanisme yang benar. Karena sebenarnya ADD adalah hak rakyat yang sudah seharusnya dikelola dengan baik sehingga nantinya bisa menjadi sumber dana abadi untuk kesejahteraan. Salah satu kegiatan konkritnya adalah digunakan untuk usaha simpan pinjam (koperasi).

Pembelajaran yang menarik dari apa yang dituturkan Rofiah dalam diskusi itu adalah keberhasilan sebuah usaha tidak tergantung dari besar kecilnya uang atau dana yang didapat, tetapi tergantung dari niat, motifasi dan cara berpikir kita. Menurut Rofiah, dukungan dari pemerintah berupa alokasi dana desa yang peruntukannya sebesar 70 persen untuk pemberdayaan masyarakat harus dimanfaatkan sebesar-besarnya. Pesan Rofiah, “Marilah kita bersama-sama memanfaatkan dana ADD yang memang seharusnya untuk kita. Dan perlu dipahami bahwa tanggung jawab kita untuk mengembalikan bukan semata-mata karena itu dana pinjaman tetapi karena ADD adalah uang kita sendiri yang nantinya akan kita kelola lagi menjadi usaha yang lebih besar untuk kesejahteraan kita”.

Partisipasi Pemuda Membangun Caruban

Ajang diskusi yang tidak kalah penting terjadi pada ”Refleksi 10 Nopember” yang diadakan oleh FBMC. Forum kali ini, mendapat respon cukup baik dari beberapa instansi pemerintah yang diundang pada malam 10 November 2008 itu. Hadir diantaranya, Edy Bintarjo selaku Kabid Ekonomi Bapeda Kabupaten Madiun, Ali Jayadi dari Komisi Pembangunan dan ekonomi DPRD Kabupaten Madiun, Teguh Cahyadi (konsultan Planologi ITN Malang), dan Firdaus Anderson selaku koordinator FBMC. Mereka sengaja diundang untuk membicarakan persoalan masyarakat dengan format lesehan dan nonton bareng film dokumenter Deklarasi FBMC Caruban hasil produksi studio Seni Gerak, Perkumpulan Alha-raka Jombang.

Menurut Edy Bintarjo selaku ahli ekonomi Kota Caruban, tahun ini sangat terbuka kesempatan dan peluang pemuda untuk lebih maju. Apalagi dengan membentuk wadah kelompok, tentunya keberadaan mereka akan diperhatikan oleh semua instansi pemerintah. Hal ini didukung perspektif positif bahwa pemuda dianggap lebih gesit dan terpelajar. Ini harus menjadi cambuk bagi kawula muda untuk terus aktif dan semakin kreatif mengembangkan diri untuk kota kelahiran tercinta. Edy mengaku sangat senang dengan kegiatan pemuda seperti ini, mereka lebih proaktif dalam upaya membangun Kota Caruban. Untuk itulah, mari kita bersama-sama membangun jaringan, jangan hanya mengharap kepada pemerintah dan investor. Tapi dengan daya kreatifitas masyarakat yang cukup tinggi, maka kota Caruban menjadi lebih dinamis, sehingga kebutuhan sosial perekonomian yang beragam dari masyarakat dapat tercukupi.

Bagaimana cara wakil rakyat memperjuangkan kelompok muda Caruban? Mendapat pertanyaan ini, Edy menerangkan bahwa ada beberapa anggaran dari pemerintah yang sebagian kecil berupa ADD difokuskan untuk desa, akan tetapi pos anggaran tersebut memang sangat terbatas. Namun pemerintah masih mempunyai program lainnya yang bisa diakses untuk dijadikan modal pengembangan kelompok. Menurut Edy, sebagian besar dinas maupun instansi pemerintah mempunyai anggaran khusus untuk pengembangan perekonomian rakyat. Tinggal bagaimana masyarakat mengejar informasi tersebut, karena dari pemerintah sendiri memang kurang maksimal dalam mensosialisasikannya kepada masyarakat. Sehingga dia berharap, FBMC mampu menjadi media penghubung antar kelompok yang memiliki jenis usaha yang sama, sehingga mempermudah pendataan jika akan dikembangkan lagi.

Dalam Perda No 1 tahun 2006, Caruban telah diangkat menjadi kota perdagangan dan pusat pelayanan publik. Hal ini sangat bertentangan dengan realitas sosial masyarakat, yang masih melakukan aktifitas keuangan di luar kota Caruban. Untuk itulah Edy selaku pengamat perekonomian menyarankan kepada masyarakat agar membeli semua kebutuhan di pasar sendiri agar uang tersebut tidak keluar daerah.

Hal ini dibenarkan oleh Ali Jayadi, selaku Komisi Pembangunan dan Ekonomi DPRD, melihat potensi kota Caruban ketika dikembangkan. Hal ini dapat diawali dari pemanfaatan kota sebagai tempat transit para pengemudi bertonase berat yang menempuh jarak jauh. Namun untuk menuju sebuah Kota tentunya membutuhkan persiapan yang cukup rumit berkenaan dengan tata ruang kota, sosial ekonomi masyarakat, maupun birokrasi pemerintahan. ”Kita sebenarnya sudah mengawali pusat pemerintahan sedikit demi sedikit, mulai dari perencanaan pembangunan tol yang akan dimanfaatkan pemerintah Caruban yakni dengan syarat pintu masuk tol terdapat dalam wilayah Caruban. Jika usulan para wakil rakyat ini diterima oleh pemerintah pusat, maka potensi pendapatan daerah pun akan bertambah,” ujarnya.

Memperkuat Penggerak Lokal

Dalam perjalanannya FBMC menggagas berdirinya lembaga ekonomi bersama yang diberi nama LEK DIMAR, singkatan dari Lembaga Ekonomi Kerakyatan ”Handidik Kagem Mahardika” (Dimar) yang anggotanya terdiri dari para penggerak kelompok-kelompok yang tergabung dalam FBMC.

Pada tanggal 9 November 2008, FBMC bersama LEK Dimar mengadakan diskusi sehari membahas bagaimana membangun kemandirian kelompok. Diskusi yang dilaksanakan di Rumah Sehat H. Bambang Singarto, depan pasar sayur Caruban ini juga membicarakan tentang Tata Ruang Kota Caruban yang disampaikan Ivan Nur Cahyo, sebagai narasumber, dan menghasilkan beberapa gagasan tentang usaha alternatif yang akan dilakukan oleh kelompok-kelompok anggota FBMC terkait dengan penataan kota Caruban sebagai kota transit dan perdagangan.
Rencana tindak lanjut dari diskusi yang diikuti sekitar 30 orang ini adalah bentuk-bentuk kegiatan apa saja yang hendak dilakukan, diantaranya; Diskusi, Diklat, advokasi kebijakan tentang akses permodalan, pelatihan administrasi keuangan dan lain-lain. Untuk kegiatan tersebut FBMC telah menyediakan sekretariat bersama (sekber) yang akan disetting menjadi tempat pelatihan dan pendidikan. Sekber tersebut diserahkan pengelolaannya kepada LEK Dimar.

Baca Selanjutnya...

Caruban Asri,Indah, dan Tertib

1 komentar

Kota Caruban baru saja mendapatkan penghargaan Adipura dari Pemerintah Pusat, untuk itu kita harus dapat terus mengupayakan agar Kota Caruban tetap dalam kondisi tertib, bersih dan indah. Disamping itu kita juga harus terus berbenah untuk lebih meningkatkan keindahan ini, karena kedepan Kota Caruban akan dijadikan pusat pelayanan masyarakat di Kab. Madiun.
Demikian antara sambutan Bupati Madiun H. Djunaedi Mahendra, SH MSi sesaat sebelum Kirap Piala Adipura Tahun 2008 kategori Kota Kecil yang diraih oleh Kota Caruban diberangkatkan oleh Plt. Ketua DPRD Kab. Madiun dari serambi depan Gedung DPRD setempat, Senin : 23 Juni 2008.
Menurut Bupati H. Djunaedi Mahendra, SH MSi keberhasilan Kota Caruban menerima Penghargaan Adipura tahun 2008 ini merupakan kerja keras kita semua terutama warga Kota Caruban, untuk itu Bupati Madiun menyampaikan terimakasih yang sebesar-besarnya atas peran serta seluruh masyarakat sehingga dapat diraih Penghargaan dan Piala Adipura tahun 2008. Dan untuk dapat meraih kembali Adipura untuk berikutnya kita harus dapat berupaya lebih baik lagi.


Terkait dengan kirap Piala Adipura Kota Caruban yang digelar Pemkab. Madiun hari ini adalah merupakan bagian dari rasa syukur kita semua sekaligus agar masyarakat kota Caruban juga dapat menyaksikan bahwa apa yang mereka perjuangkan selama ini telah menghasilkan yang ter baik dan dengan Kirap ini pula diharapkan masyarkat dapat termatovasi untuk lebih meningkatkan keindahan, kebersihan dan ketertiban kota Caruban, terutama ketertiban lalu lintas.
Untuk pelaksanaan kirap Adipura tahun 2008 Kota Caruban didukung oleh Jajaran Pemkab. Madiun , Paguyuban Sepeda Unto Kota Caruban dan Dagangan, Paguyuban Becak Kota Caruban dan Group Drum Band MI Caruban. Sedangkan yang membawa Piala Adipura Ema Yulia dan Diana Mega ( Juara Kangmas dan Nimas Tahun 2007 ) dari SMA N I Mejayan.

Baca Selanjutnya...

Kedung Brubus Pilangkenceng Madiun

1 komentar

MADIUN
Kemarahan warga Kedungbrubus Baru korban mega proyek pembangunan waduk Kedungbrubus di Desa Bulu Kec Pilangkenceng Kab Madiun kembali memuncak.

Selasa (9/9/08) warga nekat melakukan aksi membakar Surat Keterangan (SK) hak pakai penggunaan dan pemanfaatan lokasi resettlement di depan Pendopo Kab Madiun. Mereka menuntut Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) agar mendesak Pemkab Madiun segera memenuhi hak-hak rakyat Kedungbrubus Baru.

Aksi belasan perwakilan warga Kedungbrubus Baru didampingi aktivis mahasiswa dari PMKRI (Persatuan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia) Madiun itu berlangsung sekitar pukul 11.00. Mereka membawa berbagai poster bernada hujatan kepada DPRD, Bupati Madiun dan Menteri Kehutanan.


Warga mengatasnamakan Gerakan Rakyat Bersatu Melawan Penindasan (GRBMP) gagal menemui Bupati Madiun H Muhtarom. Sehingga surat tuntutan kepada Bupati Madiun diserahkan ke Sekpri Sekretaris Daerah setempat.

Koordinator aksi Suryanto menyatakan, sejak warga berjumlah 148 Kepala Keluarga (KK) resmi pindah (boyongan) ke lahan relokasi di Dusun Kedungkelis Desa Bulu seluas 40.15 hektar mulai April 2006, hingga Waduk Kedungbrubus diresmikan oleh Bupati Madiun H Djunaedi Mahendra SH, hak-hak warga mendapatkan sertifikat hak milik atas tanah ditempati belum dipenuhi.

Pemkab Madiun dianggap melanggar surat keputusan bersama (SKB) antara pemerintah dengan warga Kedungbrubus Nomor 465/1760/402.116/2005.

"Pemkab Madiun hanya memberikan Surat Keterangan (SK) dari Badan Pertanahan Nasional (BPN) dengan nomor seri 500.352.0-1415. Sebab itu, pemerintah pusat harus mendesak Pemkab segera menyelesaikan lebih dulu kewajibannya atas segala hak-hak kami. Salah satunya menerbitkan sertifikat tanah ditempati warga Kedungbrubus Baru," kata Suryanto koordinator aksi usai melakukan pembakaran SK di depan pendopo Pemkab Madiun Selasa (9/9).

Selain itu, warga menuntut hak-hak warga sesuai tertuang dalam SKB dipenuhi. Termasuk fasilitas Umum (fasum) seperti sekolah, kantor desa, Puskesmas, Pasar, jaringan listrik, pengaspalan jalan serta pembangunan saluran irigasi.

"Kami ditipu oleh pemerintah. Sebetulnya kami sangat mendukung pembangunan waduk. Tetapi kenapa pemerintah malah menipu rakyatnya sendiri. Ini tidak adil, kami meminta kepada pemerintah segera menuntaskan sertifikasi tanah," kata salah satu warga Kedung Kelis, Kadimin saat orasi di depan Kantor Pemkab Madiun.

Warga juga menilai Pemkab Madiun hingga saat ini hanya memberikan janji tanpa realisasi. Pada pertemuan beberapa waktu yang lalu, berjanji akan menuntaskan sertifikat dalam waktu tujuh bulan. Namun, hingga kini belum ada kejelasan, bahkan Pemkab Madiun cenderung lempar tangan.

"Jika aspirasi dan tuntutan kami tidak ada tanggapan, maka kasus ini akan kami bawa ke jalur hukum dan pemerintah pusat harus membatalkan proyek waduk kedungbrubus tersebut," tambah Suryanto.

Usai melakukan orasi dan pembakaran SK hak pakai tanah relokasi di depan patung Pendopo Pemkab Madiun, warga langsung ditegur oleh sejumlah staf Kesbang Pemkab Madiun. Lantaran dianggap tidak mengantongi ijin aksi. Selanjutnya warga membubarkan diri.

Baca Selanjutnya...

Selasa, 17 Maret 2009

Sulitnya mencari jalan menuju kebaikan

2 komentar

Terkadang dikala kita sedang tersudutkan oleh suatu masalah yang besar suatu masalah yang bersangkutan dengan hati suatu masalah yang bersangkutan dengan perasaan kita terkadang putus asa dan ingin segera untuk menyerah “ingin mati…!!” atau ” cobaan apa lagi ini Tuhan ” “Tuhan gak adil” kita sebaiknya merenungi lagi apa yang telah kita lkukan dan apa yang telah terjadi. Tidak semudah seperti membalikan telapak tangan kita tidak seperti yang kita bayangkan, apalagi ketika orang yang kita sayangi dan kita cintai meninggalkan kita dan pergi entah kemana dan berbalik membenci,heeem terasa sangat pedih dan air mata takan bisa kita tahan seperti kita ingin menahan laju angin yang mengempasmu jalan pertama yang kita lalu adaalah berdoa kepadaNya memohon untuk meringankan beban yang ada dihati ini dan berharap ata suatu mugjizat dari Nya dan terkadang tak putus putusnya kita berdoa dan menangis siapapun dia baik lelaki atau perempuan apalagi apabila itu terjadi karena suatu masalah yang sebenarnya tak perlu dibesar besarkan dan yang lebih pahitnya apabila cinta itu terlarang karena ada larangan bukan dari Tuhan melainkan dari orang tua.

Semua rencana musnah hanya hitungan detik dan kita anaknya (orang tua) hanya harus dan musti menerimanya karena kekuasan besar di keluarga adalah orang Tua dan kita akan terkena azab dari Tuhan apabila kita berkata TIDAK dan melawan orang Tua teutama Ibu kita sebagai anaknya mengerti seberapa besar pengorbanan seorang ibu untuk melahirkan kita dan mengurus kita hingga kita dewasa tetapi apakah hak hak kita sebagai anak terutama manusia musnah??? hilang ?? atau tiada sama sekali??? kebanyang apabila kita melanggarnya karena tertulis dalam kitab Alquran yang membahas soal ibu “karena ditelapak kaki ibu terdapoan syurga” “karena doa ibu adalah doa yang paling di dengar Tuhan” lalu kita sebagai naka harus bagai mana?? apkah kita harus memiliki pasangan yang satu pengertian dengan ibu kita? atau kita harus berpasangan yang memiliki iman yang sama? lalu mengapa Tuhan menciptakan ras suku dan agama yang berbeda kalau hanya utuk dipermasalahkan ??

Sungguh susah untuk bsa berjalan mencari kebaikan kasih cinta, seandainya ada mesin waktu untuk kembali kezaman para Nami (rasul) aku akan memprotesnya dan mencari kebenaran atas kebenaran atau mungkin kita salah untuk menterjemahklan dan mengartkannya??? maaf bukan maksudku untuk memprotes suatu ajaran tetapi inilah kata hatiku. Dan terkadang kita telah berbuat baik tetapi salah dan dianggap jahat dan terkadang suatu nilai tanggung jawab hanya dinilai dengan nilai yang mengecewakan dan terkadang kata untuk bertobat hanya cukup dengan air mata dan berdoa. Bagiku tidak..!!! selain berdoa dihati kita yang paliiing dalam harus ada kata penyesalan dan harus bertanggung jawab atas semua itu tetapi ternyata semuai itu banyak yang menolaknya

Tuhanku yang mencipptakan ku dan kami semua yangada di muka bumi ini ajari kami dan bimbing kami menuju jalan kebaikan karena hanya Tuhan yang tau dan aku percaya semua ini adalah rencanamu karena setiap rencan rencanamu adalah suatu misteri yang tak bisa manusia liat dan rasakan sebelum merasakannya kasihMu Tuhan selalu menyertai kami disetiap langkah dan kehidupan kami dan kami sangat berterima kasih atas semuannya walaupun ini berat dan perih kami akan mencoba untuk tegar mengahadapinya kami percaya masih ada hari esok yang bahagia menunggu kami Amin….

Baca Selanjutnya...

Sabtu, 14 Maret 2009

Hidup Mandiri

1 komentar

Sebagian besar kecakapan berbahasa seseorang tidak diperoleh di bangku sekolah/kursus. Pernyataan ini akan lebih terasa kebenarannya apabila sebuah kursus bahasa berlangsung selama beberapa puluh jam dan dipadatkan dalam waktu yang tidak lama. Oleh karena itu saya setuju dengan pendapat bahwa sebuah program pengajaran bahasa sebaiknya memberikan komponen strategi belajar mandiri.

Salah satu komponen yang saya perkenalkan kepada siswa-siswa saya di masa lalu adalah cara induktif belajar imbuhan dengan bantuan kamus Indonesia-Inggris. Langkah-langkah di bawah ini saya harap bisa memberikan gambaran bagaimana cara belajar ini diperkenalkan dan dipraktikkan.
Langkah Pertama: Pelajaran membaca
Para pembelajar membaca sebuah wacana yang "sesuai" dengan tingkat kecakapan mereka (menantang untuk meningkatkan kecakapan mereka). Wacana yang terlalu mudah tidak memberikan masukan baru, sebaliknya, wacana yang berisi terlalu banyak masukan baru akan membuat pembelajar menjadi patah arang. Sebagai contoh, wacana di bawah ini saya berikan kepada pembelajar Tingkat III di IALF Bali.


Amerika punya Bob Dylan, Indonesia punya Iwan Fals. Keduanya sama-sama pelantun lagu country. Yang membedakan, syair lagu-lagu Iwan, yang sarat dengan kritik sosial itu, terasa lebih telanjang.

Iwan Fals, yang bernama asli Virgiawan Listianto, memang menjadi fenomena tersendiri bagi industri musik Indonesia. Sejak Oemar Bakri meledak di awal 1980-an, penyanyi kelahiran Jakarta, 3 September 1961, ini langsung meroket dan mendapat cap "penyanyi tukang protes". Album-albumnya laku keras dan tidak terhitung lagi yang dibajak.

Sejatinya, Iwan Fals hanya memotret kejadian di sekitarnya. Bisa jadi, itulah yang membuat anak-anak muda begitu mengidolakannya. Mereka, misalnya, bukan sekedar membentuk Fals Mania, tapi kerap juga berbondong-bondong mendatangi rumah Iwan. Konser Iwan Fals sendiri selalu dipenuhi penonton dan kerap membuat waswas aparat. Pada tahun 1989 dan 1993 konsernya berakhir dengan kerusuhan. Karena itulah, rencana tur musik "100 kota"-nya tak mendapat ijin. Iwan terpukul dan kemudian masuk ke pedepokan Rendra di Citayam.

Kini, Iwan tenang memetik buah dari puluhan album lagunya. Ia tinggal dengan istri dan putrinya, Cikal (putranya, Galang Rambu Anarki, meninggal dunia pada tahun 1997) di rumahnya yang lapang sekaligus merangkap studionya di kawasan Cibubur, Jawa Barat. Sesekali, selain mencipta lagu, ia juga asyik menekuni hobinya yang lain: melukis.

Banyak kegiatan belajar membaca yang bisa dikembangkan dengan wacana ini. Setelah wacana ini dimanfaatkan sesuai dengan fungsi utamanya (belajar membaca), perhatian pembelajar bisa diarahkan pada upaya memperkaya kosa-kata, terutama kosa-kata yang menarik perhatiannya. Di dalam kelas guru bisa, seperlunya saja, menjadi sumber informasi. Di luar kelas pembelajar harus menggunakan kamus. Sekali lagi, pengajaran yang memberdayakan pembelajar mengarahkan pembelajar menuju kemandirian. Dalam proses belajar mandiri ini kamus menjadi alat belajar yang sangat penting.
Langkah Kedua: Mengenali kata dasar
Mengenali kata dasar merupakan keterampilan fundamental dalam belajar mandiri. Pembelajar tidak bisa belajar dari kamus tanpa keterampilan ini. Ada dua kegiatan pokok dalam langkah ini.
Pembelajar menggarisbawahi semua kata dasar dari kata-kata imbuhan yang ada dalam wacana
Mengenali kata dasar dalam sebuah kata berimbuhan berarti mengenali secara langsung imbuhan yang digunakan. Oleh karena itu, dengan kegiatan ini pengajar bisa mengetahui imbuhan mana yang sudah dikenali pembelajar. Kesulitan biasanya dijumpai pada kata-kata dasar yang huruf pertamanya mengalami perubahan morfofonemik, misalnya mengirim, menyimak, penerima, dan lain-lain.
Pengajar memberikan balikan
Balikan bisa diberikan dengan berbagai cara, misalnya wacana yang semua kata dasarnya dicetak tebal seperti berikut:

Iwan Fals, yang bernama asli Virgiawan Listianto, memang menjadi fenomena tersendiri bagi industri musik Indonesia. Sejak Oemar Bakri meledak di awal 1980-an, penyanyi kelahiran Jakarta, 3 September 1961, ini langsung meroket dan mendapat cap "penyanyi tukang protes". Album-albumnya laku keras dan tidak terhitung lagi yang dibajak.

Kata-kata yang mengalami proses morfofonemik akibat penambahan imbuhan, kata dasarnya bisa disajikan dalam tanda kurung, seperti: mengirim (meN + kirim).
Langkah Ketiga: Membuka kamus
Setelah mengenali kata dasar dan imbuhan yang ada, pembelajar mencari arti kata-kata sulit di dalam kamus. Kamus yang sering digunakan adalah Kamus Indonesia Inggris susunan John M. Echols dan Hassan Shadily. Pengajar bisa memasukkan komponen keterampilan menggunakan kamus: mencari arti kata yang sesuai dengan konteks wacana yang sedang dihadapi.
Langkah Keempat: Mengembalikan imbuhan yang dihilangkan
Tujuan utama kegiatan ini adalah membuat pembelajar menyadari pentingnya imbuhan untuk menentukan makna. Tidak sedikit kata dasar yang tak bermakna tanpa imbuhan, atau bermakna yang sama sekali berbeda kalau berdiri sendiri tanpa imbuhan. Dalam langkah ini pembelajar berlatih membentuk kembali kata turunan untuk makna yang telah diketahui sebelumnya tanpa melihat wacana sumber.

Iwan Fals, yang (nama) __________ asli Virgiawan Listianto, memang (jadi) ___________ fenomena (sendiri) ____________ bagi industri musik Indonesia. Sejak Oemar Bakri (ledak) ___________ di awal 1980-an, (nyanyi) ___________ kelahiran Jakarta, 3 September 1961, ini langsung (roket) ____________ dan (dapat) ____________ cap ("nyanyi) __________ tukang protes". Album-albumnya laku keras dan tidak (hitung) ___________lagi yang (bajak) ___________.

Karena telah mendalami wacana, pembelajar diharapkan mengetahui makna yang akan diungkapkan dengan simbol kata imbuhan. Harus diakui bahwa pada kecakapan setingkat ini, pembelajar masih mengandalkan bahasa ibu, dalam hal ini bahasa Inggris. Misalnya, untuk kata dasar nyanyi, pembelajar diharapkan mengetahui bahwa makna yang akan diungkap adalah "singer/someone who makes a living by singing". Wacana aslinya mengajarkan dia bahwa imbuhan yang harus dipakai dalam konteks ini adalah awalan peN. Begitu pula dengan kata dasar yang lain.

Kegiatan ini bisa divariasikan dengan latihan pilihan ganda, seperti berikut ini:

Album-albumnya laku keras dan tidak (A. menghitung; B. terhitung; C. hitungan; D. dihitung) lagi jumlah yang (A. membajak; B. bajak; C. pembajak; D. dibajak) -nya.

Dengan latihan seperti ini pembelajar diharapkan mengetahui bahwa terhitung itu berbeda dengan dihitung dan sama sekali tidak sama dengan menghitung, cukup dengan tahu arti terhitung.

Latihan-latihan ini bisa dibuat lebih menarik dengan menggunakan fasilitas program pembelajaran bahasa dengan bantuan komputer, seperti program WIDA yang digunakan di IALF Bali. Dengan program ini pembelajar secara otomatis mendapat balikan tertulis (berikut penjelasan singkat) yang muncul di layar komputer ketika dia membuat jawaban benar atau pun salah.
Langkah Kelima: Pembelajar membuat sendiri latihan di atas
Dalam langkah ini pembelajar memilih sendiri wacana yang disukai. Setelah menghilangkan semua imbuhan atau membuat latihan pilihan ganda, sebagai tahap pertama pembelajar bisa menggunakan latihan ini untuk mengevaluasi dirinya sendiri. Sesudah itu, latihan ini bisa dilanjutkan dengan memberikan tugas membuat latihan untuk dikerjakan oleh teman sekelas (pasangan belajar). Dalam tahap ini, pembelajar bisa saling mengajari.
Akhir kata
Setelah melakukan latihan seperti ini berulang-ulang, pembelajar diharapkan menyusun sejumlah hipotesis tentang sistematika imbuhan dalam bahasa Indonesia. Dalam proses ini siswa menguji sendiri kebenaran hipotesis yang dibuatnya.

Seperti halnya teknik-teknik pembelajaran lang lain, teknik ini belum tentu cocok dan efektif untuk semua pembelajar. Untuk mengetahui cocok atau tidaknya, perlu dicoba. Hampir semua pembelajar dalam kelompok kecil (2 - 4 orang) yang pernah mencoba cara ini mengatakan bahwa mereka suka cara ini untuk belajar mandiri. Mereka bisa memilih sendiri imbuhan yang hendak diperdalam, sesuai dengan wacana yang dihadapi.

Baca Selanjutnya...

Pembelajaran Hidup

1 komentar

Sebuah telaah mengaktualisasikan ke ”imaginer”-an hati
Setelah diamati, ternyata manusia adalah makhluq unik yang diciptakan Tuhan, ia juga sekaligus menjadi makhluq yang paling sulit ditebak langkah dan tindakan, namun demikian suatu waktu ia bisa menjadi makhluq yang sangat mudah untuk ditebak melalui kata dan perbuatan. Manusia dibekali hati dan perasaan yang dengannya mampu membaca segala sesuatu yang sebenarnya tidak bisa dan tidak mudah ditangkap oleh panca indera. Yang dengannya pula secara naluriah dapat menjadi alat mempertahankan diri sebagai salah satu karunia terindah dalam takdirnya sebagai ciptaan. Kata adalah cermin sifat yang dapat ditangkap oleh hati yang dengannya ia berfikir untuk kemudian ditarik sebuah kesimpulan sederhana perihal keaslian isi hati dari seorang ciptaan yang kalau mau diporsentasekan melebihi angka 50 persen kebenaran, namun hal ini bukan menjadi patokan akhir, hanya sekedar berjaga-jaga karena memang demikianlah fungsi mempertahankan diri diciptakan sebagai sebuah program yang dirancang khusus mampu mengaktualisasikan sesuatu yang imaginer. Perbuatan apalagi, meski tak diiringi sedikitpun perkataan, hanya dengan sedikit gerakan (Baca: body language) sudah mampu menjelaskan keadaan yang sebenarnya dari imaginernya hati. Inilah kita, kita adalah manusia, manusia adalah tak kuasa, tak kuasa adalah kepastian dari manusia. Namun demikian dengan bekal yang diberikan kepada kita sebagai manusia, haruslah dioptimalkan potensinya untuk kebaikan demi kebaikan sebagaimana tujuan diberikannya karunia tersebut.

Pernahkan terbayang dalam benak kita, sesekali kita cocok berinteraksi dengan seorang kawan, namun disisi lain kitapun merasa tidak cocok berkawan akrab dengan lainnya. Sering kali didapati kawan-kawan kita semisal dikampus baik pria maupun wanita memiliki tingkat persahabatan dan kesetiaan yang beragam, berbeda satu dengan yang lainnya, baik sesama maupun antar kawan sebaya. Mengapa hal itu dapat terjadi?, jawaban sederhana yang coba penulis ketengahkan adalah bahwa jiwa itu beragam dan hati itu berbeda, ia hanya akan merasakan kenyamanan manakala jiwa dan hatinya bertemu dengan yang bersesuaian. Inilah rahasia imaginernya hati dalam pembahasan kali ini. Jiwa dan hati ternyata mampu berbicara bahkan bercerita tentang hal ihwal jiwa lainnya yang kemudian dengannya mampu menyimpulkan ‘ ini sesuai atau ini tidak sesuai ‘, sehingga terjadilah ‘Rini akrab dengan Anita’ namun ‘Andi tidak akrab dengan Wawan’. Sehingga dapat ditarik benang merah bahwa “Lisan, tindakan dan perbuatan, melambangkan isi hati seseorang”. Sehingga benarlah yang dikatan Rasul bahwa memandang seorang anak manusia dapat dipandang dari teman akrabnya. Orang yang berbenturan antara hati, lisan, dan perbuatan adalah mereka yang tidak punya pendirian dalam kehidupan.

Maka dengan analisa diatas, dapat pula kita rasakan sesuatu yang tidak bisa dilihat nyata namun dikesempatan yang lain bisa terbaca dengan jelasnya. Permisalan yang coba penulis angkat dalam hal ini adalah, dari perkataannya bisa disimpulkan bahwa ia kecewa meski tidak berucap kecewa, dari berbagai pandangan dan pendapatnya bisa dirasakan kalau ia tidak bisa menerima hasil kepususan syuro misalnya, dari gerak dan tingkah lakunya dapat pula disimpulkan kalau ia berambisi menjadi ALEG meskipun ia berucap tidaklah berambisi, namun hati bisa merasakan apakah kata itu sesuai dengan yang sebenarnya hati rasakan, apalagi bila yang berfirasat adalah hati orang yang beriman, karena Rasul mengatakan: hati-hati dengan firasat orang beriman, karena ia lahir dari hati yang selalu berzdikir kepada Tuhannya.

Memandangan dengan pandangan mata, akan sampai hanya pada dzohir saja

Namun, memandang dengan hati akan mampu menembus hati lainnya,

Maka asahlah hati dengan selalu berdzikir pada-Nya.

Dilain hal, Allah selalu menuntun manusia untuk selalu mengutamakan Huznuzzon diatas segalanya, sehingga interaksinya adalah interaksi yang tidak tendensius dan menghakimi. Marilah belajar bersama menjadi manusia yang jujur diantara karakter kita yang beragam, kuncinya adalah HATI YANG JUJUR PADA ALLAH SWT.

Kepada yang sudah terlelah ’bertahan’ dalam tarbiyah

Tetaplah, dalam kelemahan kaki melangkah

Dalam kepapaan hati berteguh

Dalam ujian idealisme jalan ini

Dalam kelimpungan indahnya dunia menawari

Dalam setiap kebingungan dan ketidak pastian

Tetaplah bertahan dan bertahan

Kelak kita kan tahu yang sebenarnya

Dan andapun bisa membaca hati penulis, dari tulisan ini

Akhukum Fillah

Farrosih

Baca Selanjutnya...

G we ni

Foto saya
Caruban Madiun, Jatim, Indonesia
Hidup adalah hidup......hidup adalah menentukan pilihan atau tidak menentukan pilihan sama sekali.

Shobat

Bali Villas
Site Meter Education - Top Blogs Philippines
ANTI free sex & film porno Indonesia IndoTopBlog, Kumpulan Blog dan Situs Indonesia
Bookmark and Share
 

KEINDAHAN Copyright 2008 Fashionholic Designed by Ipiet Templates Supported by Tadpole's Notez